Selasa, 26 Mei 2020

"Bicara Bagi Politisi Adalah Penegasan Keberpihakan"




"Bicara Bagi Politisi Adalah Penegasan Keberpihakan" 

Dalam kehidupan semua orang melakukan pembicaraan untuk berkomunikasi dengan orang lain demi memenuhi berbagai kepentingan dalam hidup baik kepentingan pribadi, kelompok, organisasi maupun kepentingan politik, berbangsa dan bernegara.


Orang-orang tidak pernah lepas dari bicara, memang terkadang orang kelebihan bicara dan itu berlaku dalam kehidupan sehari-hari diluar urusan politik dan bernegara. Lalu apa yang anda pikirkan tentang perbedaan antara bicara orang biasa dan orang politik atau yang mewakili otoritas politik tertentu, atau seorang tokoh yang punya nama dalam politik.


Tentu saja berbeda antara bicara orang biasa dengan politisi atau pemimpin politik. Orang biasa pembicaraannya tidak menjadi pegangan khalayak atau publik, ia hanya mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai orang  jujur atau pembohong. Sementara seseorang politisi atau pemimpin politik itu setiap kali mereka bicara merupakan suatu sikapnya dalam memandang suatu masalah dalam kehidupan masyarakat. Maka setelah dia bersikap  maka akan sulit ia memutar balikkan pembicaraannya kecuali dengan dalih yang bisa dipertanggung jawabkannya.


Maka bagi rakyat, seharusnya akan jauh lebih baik terhadap politisi yang berbicara daripada yang berdiam diri dalam mewakili rakyat atau menjadi pengurus partai politik. Karena tanpa bicara ia tidak memperlihatkan sikapnya untuk ada di jalur kebenaran. Maka di negara yang sudah maju sama sekali tidak ada perwakilan rakyat itu yang membisu, karena mereka sesungguhnya ada diparlemen itu untuk bicara. Karena itu yang tidak bicara bisa dipastikan sudah berkonspirasi dengan eksekutif atau para pihak dagang dimana kemudian dapat mendegradasikan status masyarakatnya menjadi elemen yang terhina. Maka politisi tidak bicara adalah berbahaya bagi rakyat.


Maka sebaiknya masyarakat jangan lagi dikibuli oleh para pihak dengan mengatakan bahwa anak tiongpun bisa bicara. Itu adalah persepsi penjajah agar pribumi tidak banyak menuntut keadilan sebagai warga negara. Yakinlah bahwa pekerjaan utama memimpin adalah berbicara dan begitu pula pekerjaan politik. Jika tidak bicara bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan dan menerangkan kepada publik terhadap tujuan bersama. Maka secara logika wakil rakyat yang keahliannya hanya diam itu sedang korup dan perlu segera diganti oleh partainya demi mempertanggung jawabkan fungsinya kepada masyarakat atau konstituennya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar